Makan Cepat 40 Menit Sebelum Teater di Cheonghwawon Daehangno

Singkatnya

Cheonghwawon Daehangno Branch adalah restoran China di Daehangno, Jongno, Seoul, hanya 2 menit jalan kaki dari Stasiun Hyehwa Exit 4. Setelah gagal di dua restoran lain karena antrean dan bahan habis, penulis duduk di kursi jendela lantai 2 dan memesan guobaorou (17.000 won) serta chili shrimp, total 39.300 won. Kerenyahan lapisan tepung dan keseimbangan sausnya bertahan sampai suapan terakhir, hingga dua piring gorengan itu habis tanpa sisa.

Penataan meja kursi jendela lantai 2 Cheonghwawon Daehangno Branch

Info terverifikasi

Lokasi
166m dari Stasiun Hyehwa Exit 4, 2 menit jalan kaki (36 Daemyeong-gil, Jongno-gu, Seoul)
Guobaorou
₩17.000
Total pembayaran
₩39.300 untuk guobaorou + chili shrimp
Kursi
Lantai 1 meja bar dan kursi solo; lantai 2 kursi jendela dan meja rombongan
Cara pesan
Pemesanan via tablet yang terpasang di setiap meja

seperti ditulis pengunjung pada 7 September 2026

Semangkuk guobaorou yang dimulai dari Stasiun Hyehwa Exit 4

Begitu keluar dari Stasiun Hyehwa Exit 4 dan masuk ke gang satu arah menuju Sungshin Women's University area, pikiranku cuma satu: makan siang hari ini harus guobaorou (babi goreng saus asam manis khas China) yang renyah dan segar asam manisnya.

Suasana gang Daehangno dekat Stasiun Hyehwa Exit 4

Di tengah Daehangno, dengan waktu tersisa sebelum teater dimulai, aku berjalan mencari makanan China yang layak dalam waktu 40 menit saja. Jarak 166 meter dari Stasiun Hyehwa Exit 4, sekitar 2 menit jalan kaki, membuat langkahku makin yakin.

Gang satu arah dari Stasiun Hyehwa menuju Cheonghwawon

Dua kali gagal: antrean panjang dan bahan yang sudah habis

Awalnya tempat ini bukan tujuan utamaku. Aku sebenarnya ingin ke restoran kecil yang terkenal di gang teater dekat sini, tapi begitu melihat antrean panjang di depan pintu, aku langsung menyerah. Dengan waktu makan siang yang mepet, menunggu minimal 20 menit bisa fatal untuk jadwal masuk teater.

Antrean panjang di depan restoran Daehangno saat jam makan siang

Tanpa ragu aku berbalik dan cepat-cepat menyusuri gang sebelah, masuk ke restoran lain—tapi lagi-lagi ditolak karena bahan makanannya sudah habis. Kegagalan kedua.

Pintu masuk restoran di gang Daehangno yang bahan makanannya habis
Papan nama restoran di gang belakang jalan teater Daehangno

Lantai 1 untuk makan sendiri, lantai 2 kursi jendela — kursi di Cheonghwawon Daehangno Branch

Sambil merasakan sendiri betapa ganasnya jam makan siang di Daehangno, aku tersesat di gang-gang sempit sampai akhirnya mata tertuju pada Cheonghwawon Daehangno Branch. Tampilan bangunannya yang megah dengan papan nama huruf China berwarna merah seolah menghipnotisku untuk membuka pintu dan masuk. Begitu masuk, lantai 1 sudah penuh mahasiswa dan pekerja kantoran yang makan siang sendirian. Aku sempat keringat dingin takut ditolak lagi karena tidak ada kursi kosong, tapi staf dengan ramah mengarahkanku naik tangga ke lantai 2.

Tangga menuju lantai 2 dan interior Cheonghwawon Daehangno Branch

Kalau lantai 1 adalah ruang kompak berisi meja bar dan kursi solo untuk yang makan sendiri, lantai 2 justru jauh lebih luas dan lapang dari perkiraanku—sebuah kejutan menyenangkan. Ada kursi jendela lebar yang menghadap langsung ke jalanan Daehangno, serta meja-meja besar yang tertata rapi untuk rombongan.

Kebetulan ada satu kursi jendela yang kosong. Begitu duduk di sana, ketegangan yang sempat kurasakan akhirnya mereda.

Pesan lewat tablet, guobaorou 17.000 won dan chili shrimp jadi 39.300 won

Pemesanan dilakukan lewat tablet yang terpasang di setiap meja. Setelah melihat-lihat beragam menu, aku memutuskan untuk memanjakan diri setelah hari yang melelahkan ini dengan memesan guobaorou (17.000 won) dan chili shrimp sekaligus. Total pembayarannya 39.300 won—jumlah yang tidak ringan untuk makan siang sendiri atau berdua, tapi justru membuat ekspektasiku makin tinggi.

Layar tablet pemesanan di meja Cheonghwawon Daehangno Branch

Sambil menunggu makanan datang, suasana melihat orang-orang lalu lalang di jalanan dari jendela lantai 2 saja sudah memuaskan, bahkan sebelum hidangan tiba.

Pemandangan jalanan Daehangno dari kursi jendela lantai 2 Cheonghwawon
Penataan meja kursi jendela lantai 2 Cheonghwawon Daehangno Branch

Rasa guobaorou? Teksturnya berubah setiap tiga kali gigitan

Tak lama, guobaorou yang baru digoreng tiba lebih dulu di meja. Lapisan tepung berwarna keemasan yang masih mengepul, dibalut saus asam manis yang berkilau, langsung membuat air liur menetes. Saat memotongnya dengan penjepit dan gunting, bunyi 'kresek' yang renyah terasa langsung sampai ke ujung jari, menandakan kerenyahan dan kepadatan lapisan tepungnya.

Sepiring guobaorou Cheonghwawon dengan saus berkilau
Penampang guobaorou yang dipotong dengan gunting

Aku mengambil satu potong tebal dengan sumpit lalu memasukkannya ke mulut. Gigitan pertama, kerenyahan luar biasa dari lapisan tepung ketan pecah di antara gigi.

Potongan tebal guobaorou yang diangkat dengan sumpit

Gigitan kedua, lapisan tepung ketan bagian dalam yang kenyal dan gurih membalut lidah, lalu gigitan ketiga, daging babi tebal terasa lembut sambil melepaskan kaldu gurihnya. Rasa asam dari saus sedikit menyengat hidung, disusul rasa manis dan asin yang membungkus seluruh mulut. Berkat keseimbangan saus yang sempurna menahan rasa berminyak, sama sekali tidak terasa enek.

Piring guobaorou dengan sisa saus asam manis

Chili shrimp dengan daging kenyal, dimakan bergantian dengan guobaorou

Chili shrimp yang menyusul kemudian juga tak kalah menonjol. Udang-udang besar yang berlumur saus chili merah kental itu mengepul, membangkitkan selera makan.

Chili shrimp Cheonghwawon berlumur saus chili merah

Aku suka bahwa udangnya tidak dibalut lapisan tepung terlalu tebal, sehingga tekstur kenyal alami dagingnya tetap terjaga. Sensasi daging udang yang 'meletup' begitu digigit sungguh luar biasa.

Close-up satu ekor chili shrimp berukuran besar

Rasa pedas yang menyenangkan dan manis dari saus chili berpadu serasi, menciptakan ritme sempurna untuk dimakan bergantian dengan rasa asam manis guobaorou sebelumnya.

Meja makan siang lengkap dengan guobaorou dan chili shrimp

Alasan dua piring gorengan berturut-turut tidak bikin bosan

Aku sebenarnya orang yang tidak pernah memesan dua hidangan gorengan sekaligus saat makan siang, karena biasanya bikin perut begah atau bosan di tengah jalan. Tapi kondisi gorengan dan keseimbangan saus di tempat ini membuatku tidak bisa berhenti menyumpit sampai potongan terakhir. Aku sampai mengangguk kagum pada teknik yang membuat lapisan tepung tetap renyah dan kenyal meski sudah agak lama disajikan.

Pemandangan jalanan Daehangno yang hangat dari kursi jendela lantai 2, dipadukan dengan hidangan China panas dan renyah yang memenuhi mulut, terasa seperti istirahat sempurna sekaligus pertunjukan kecil tersendiri. Semua kelelahan karena antre di gang dan ditolak karena bahan habis seketika lenyap.

Sebelum menonton teater di Daehangno, atau saat ingin makanan China yang rapi dan berkualitas, Cheonghwawon Daehangno Branch adalah jawaban pasti yang bisa dipilih tanpa ragu.

Kunjungan berikutnya, aku berjanji pasti akan mencoba wooyudosakmyeon dengan kaldu yang direbus 24 jam serta shumai buatan chef asal Guangdong, sebelum akhirnya meletakkan sumpit. Makan siang yang sempurna.

Lokasi

Cheonghwawon Daehangno Branch청화원 대학로점

36 Daemyeong-gil, Jongno-gu, Seoul, South Korea서울특별시 종로구 대명길 36 1층, 2층 청화원 대학로점

Buka di Google Maps

Tempat · Restoran